Wednesday, April 19, 2017

Suatu Hari Dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer

[No. 374]
Judul : Suatu Hari dalam Kehidupan 
Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Alfred D. Ticoalu
Penerbit : Epigraf
Cetakan : I, 2017
Tebal : 191 hlm
ISBN : 978-602-60914-0-6

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah legenda sastra Indonesia dan ikon perlawanan terhadap ketidakadilan yang karya maupun kisah hidupnya selalu dibaca dan dibicarakan orang hingga kini. Dalam 81 tahun  hidupnya yang hampir separuhnya  dilaluinya di penjara/pengasingan  Pram ternyata pernah mengadakan road show  ke Amerika dan Kanada tidak lama setelah era rerformasi bergulir. Satu hal yang tidak mungkin terjadi di era Orde Baru dimana  Pram tentunya akan sangat sulit mendapat paspor karena telah mendapat stigma buruk dari pemerintah Orde Baru sebagai sastrawan komunis yang berbahaya.

Tidak banyak yang tahu apa saja yang dilakukan Pram saat berkunjung ke Amerika & Kanada. Mungkin episode kehidupan Pram ini terlupakan oleh episode kehidupan Pram yang lain karena Pram tidak pernah menuliskan apa yang dilakukannya selama di negeri Paman Sam hingga akhir hanyatnya. Beruntung ada Alfred Ticoalu, seorang penggemar karya-karya Pram yg saat itu sedang menuntut ilmu di New York, AS menuliskan pengalaman pribadinya bertemu dengan sang idolanya.

Buku ini berisi 21 kisah pengalaman atau catatan perjalanan penulis selama memandu Pram bersama rombongan mengunjungi Cornell University, Fordham University, dan beberapa tempat lainnya di Amerika dan Kanada.  Ditulis dengan gaya personal dengan candaan spontan  yang menghibur membuat apa yang dipikirkan, dilihat, dan dirasakan penulis selama mendampingi Pram menjadi begitu hidup sehingga kita seolah berada bersama-sama dengan Pram dan rombongannya.

Setelah mengisahkan bagaimana penulis bisa berkesempatan bertemu langsung dengan idolanya hingga menjadi pemandu bagi Pram dan rombongannya, penulis langsung mengisahkan bagaimana ketika dalam sebuah pertemuan umum di Asia Society, New York City, dengan keberanian penulis menanyakan hal yang mungkin menjadi pertanyaan semua yang hadir saat itu dan yang juga mungkin menjadi pertanyaan kita selama ini yaitu,  apakah Pram itu seorang komunis?

"Orang-orang berkata Bapak adalah seorang komunis, dan karena inilah karya-karya Bapak dilarang di Indonesia......apakah Bapak seorang Komunis?

(jawaban Pak Pram)

"Ya memang pemerintah Orde Baru telah mengangkat saya sebagai komunis. ...dan ini diperkuat oleh pers Orde Baru. Tuduhan itu sudah ada sejak masa Orde Lama. Tapi kalau ditanyakan, saya ini komunis nomor berapa di Indonesia? Nggak ada yang bisa jawab. Komunis siapa yang membina saya? Saya tidak tahu. Saya pribadi hanya berpihak kepada kebenaran, keadilan, kemanusiaan. Ini yang pernah saya katakan 'Pramisme'."  (hlm 33-34)


Ada banyak hal menarik yang bisa diperoleh dari buku ini. Pemikiran Pram yang terungkap lewat kutipan pidato, wawancara, serta pemikiran Joesoef Isak (editor karya-karya Pram), dan pemikiran-pemikiran penulis sendiri yang merupakan refleksi dari setiap apa yang telah ia alami bersama Pram berkelindanan saling melengkapi di setiap kisahnya. Lalu ada pula kisah pengalaman Pram dan Joeseof Ishak selama di pengasingan, dan  bagaimana naskah Tetralogi Bumi Manusia Pram bisa keluar dari P. Buru dan diterbitkan untuk pertama kalinya di Belanda berkat jasa seorang pastor Jerman

Dengan semua hal tesebut  buku ini bukan hanya sekedar sebuah catatan perjalanan atau kisah perjumpaan antara sang maestro dengan penggemarnya melainkan sebuah buku yang menyajikan pemikiran Pram dan refleksi dari penulis yang mampu membangun kesadaran pembaca buku ini dalam hal kemanusiaan, ketidakadilan, dan demokrasi

Tidak hanya hal-hal yang serius, kisah-kisah dalam buku ini juga mengungkap sisi-sisi manusiawi Pram, seperti kebiasaannya merokok, Pram yang  tiba-tiba suka mengasingkan diri di tengah keramaian dan tenggelam dalam dunianya sendiri, guyonan Pram dalam keseharian, kebiasaannya yang kerap buang air kecil,  hingga kisah lucu bagaimana Pram tiba-tiba dalam sebuah kunjungan personal menolak untuk turun dari mobil dengan alasan kelelahan padahal sebenarnya celana Pram telah basah karena tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil.

Seluruh kisah dalam buku ini pernah dimuat oleh penulisnya dalam web Pramoedya Ananta Toer yang sengaja dibuat oleh penulis atas kecintaannya terhadap karya-karya Pramoedya di tahun 1999. Saya pribadi termasuk pengunjung setia webnya dan selalu menanti munculnya postingan baru dari Bung Alfred. Tidak itu saja saya bahkan memprint ke 21  kisahnya beserta hampir seluruh materi yang ada di web tersebut. 

Delapan belas  tahun kemudian, kisah perjalanan Pram ke Amerika & Kanadan itu diterbitkan menjadi sebuah buku. Apakah sudah sangat terlambat? Jika dilihat dari kapan penulis menuliskan pengalamannya dan dan kapan tulisannya  diterbitkan tentu saja sangat terlambat. Namun karena  buku ini turut merekam pemikiran dan perjuangan Pram untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil, demokrasi,  dan bermartabat, buku yang terlambat terbit hampir dua dekade ini menjadi tetap relevan karena apa yang diperjuangkan oleh Pram dan nilai-nilai Pramisme itu belum sepenuhnya terwujud di negeri tercinta ini.

Berikut saya tutup review sederhana atas buku ini dengan petikan wawancara Pram dengan audiens di sebuah pertemuan di Toronto Kanada tahun 1999 seperti yang dimuat di buku ini

"Apa yang akan Pak Pram  lakukan kalau Pak Pram jadi Presiden?"

"Presiden? Wah, ini kalau ya...Kalau jadi presiden, akan saya ciptakan pemerintahan desa. Bergabung dan bekerja samalah. Bentuk sebuah paguyuban sehingga Anda memiliki juru bicara dan dengan demikian suara Anda akan terdengar dan tersalurkan"
 (hlm. 135-135)

@htanzil

Alfred D. Ticoalu saat diwawancarai oleh VOA (Voice of America) di kediamannya 
terkait terbitnya buku "Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer.

Sumber foto :
Nia Ntes Iman-Santoso
(VOA Indonesia)

No comments:

Post a Comment