Tuesday, April 04, 2017

Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng

[No.373]
Judul : Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng
Penulis : Sugiri Kustedja
Penerbit : Bina Manggala Widya
Cetakan : I, 2017
Tebal : 299 hlm
ISBN : 978-602-18659-7-2

Seperti halnya di kota-kota besar di Indonesia keberadaan Orang-orang Tionghoa di Bandung telah ada sejak lama dan telah  menjadi bagian dari kehidupan kota Bandung. Hingga kini belum diketahui secara pasti sejak kapan awal mula kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung.  Kemungkinan besar gelombang pertama kedatangan orang Tionghoa ke Bandung baru dimulai pada tahun 1810 ketika Gubernur Jenderal Daendels mengeluarkan Besluit van den Zomermaand,   yang mengatur penempatan orang-orang Tionghoa di Cianjur, Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang. Satu-satunya data yang tercatat ada di data yang dikumpulkan peneliti asal Belanda P. Bleeker (1815-1875) yang mencatat bahwa  pada tahun 1845  ada 13 orang Cina di distrik Bandung.

Keberadaan orang-orang Tionghoa semakin berkembang semenjak Belanda membuka daerah Priangan yang tadinya tertutup bagi orang asing di pertengahan abad ke 19, terlebih ketika dibangunnya jalur kereta api di wilayah Priangan di akhir abad ke 19 dimana orang-orang Tionghoa ikut berperan dalam pembangunannya. Ketika komunitas orang-orang Tionghoa semakin banyak tentunya mereka membutuhkan sebuah sarana untuk beribadah, untuk itu pada tahun 1885 dibangunlah kelenteng pertama di Bandung yang diberi nama Sheng -Di-Miao (Kelenteng Kaisar Suci) yang kemudian menjadi Xie Tian Gong/Hiap Thian Kiong yang secara harafiah berarti Istana Pembantu Penguasa Langit/Alam Semesta.

 Tahun 1920-an

Di era Orde Baru dengan dilarangnya nama dan segala sesuatu yang berbau Tiongkok oleh pemerintah nama kelenteng ini dirubah menjadi Vihara Satya Budhi. Baru pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, ketika etnis Tionghoa diberi kebebasan dalam menjalankan budaya, tradisi dan kepercayaannya. Nama Kelenteng Xie Tian Gong kembali muncul tanpa menghilangkan  nama Vihara Satya Budhi

Buku ini merupakan  buku pertama yang mengupas secara lengkap tentang kelenteng tertua di Bandung yg kini telah berusia 131  tahun. Buku yang ditulis oleh Sugiri Kustedja seorang doktor di bidang arsitektur ini  merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun untuk program studi doktoralnya di bidang arsitektur. Dalam bukunya ini penulis mengawalinya dengan penjelasan mengenai istilah Klenteng dan Vihara yang sering dianggap sama namun ternyata berbeda karena istilah vihara sebenarnya diperuntukkan bagi kuil Budha sedangkan Kelenteng diperuntukkan untuk para penganut kepercayaan Tao (Konfusius).  Kemudian dijelaskan juga secara singkat mengenai sejarah berdirinya Klenteng ini beserta nama dan maknanya.

Setelah itu secara berurutan penulis merinci lokasi kelenteng dan tata letak ruangan dan bangunan kelenteng termasuk benda-bendanya mulai dari pintu gerbang, singa batu penjaga, teras, pintu masuk utama bangunan, lantai, kolom bangunan, hingga ornamen pada wuwungan atap yang ternyata memiliki makna dan arti sendiri sehingga pembaca akan memahami bahwa kelenteng bukan sekedar rumah ibadah saja melainkan sebuah representasi dari alam semesta yang harmonis. Setelah itu penulis juga mendeskripsikan setiap mural yang ada pada dinding bangunan kelenteng lengkap dengan kisah yang mendasari lukisan tersebut dibuat.

Pembahasan mengenai prasasti pembangunan, perbaikan kelenteng, sirkulasi umat saat ritual pribadi, tokoh utama Kim Sin, rupang tuan rumah, perlengkapan ritual, daftar ketua pengurus kelenteng dari masa ke masa, dll juga membuat buku tentang kelenteng ini menjadi lengkap.  Dan yang tidak kalah menarik adalah dua lampiran tentang tiga liutenant Tionghoa di Bandoeng (1881-1917), dan lampiran tentang hirarki dan posisi berdasarkan model Mikro-Kosmos Yin-Yang pada Kelenteng Tradisional.

Buku ini menghadirkan juga  ratusan foto berwarna yang disajikan beriringan dengan apa yang sedang dibahas  sehingga kita dapat lebih memahami apa yang dideskripsikan oleh penulis lewat sajian visual yang tercetak secara baik.


 Tahun 2017 (Sumber foto : http://www.alaikaabdullah.com)

Bisa dikatakan buku ini sangat bergizi bagi mereka yang ingin mengetahui tentang kelenteng tertua di Bandung. Melalui buku ini kita tidak hanya diajak melihat apa isi kelenteng berserta arsitekturnya melainkan juga budaya dan kisah-kisah klasik dan mitologi  Tiongkok kuno  yang sarat makna dapat kita peroleh. Lampiran khusus tentang tiga Liutenant Tionghoa di Bandung yang memiliki keterkaitan dengan kelenteng Xie Tian Gong menjadi nilai tambah buku ini karena selama ini belum ada bahasan khusus dalam buku manapun dalam bahasa Indonesia tentang para Liutenant Tionghoa Bandung.

Yang agak disayangkan adalah sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung yang tentunya berkaitan erat dengan sejarah kelenteng ini tidak dibahas secara detail dalam buku ini. Sejarah berdirinya kelenteng pun hanya disebutkan sekilas saja sehingga bisa dikatakan unsur kesejarahan dalam buku ini kurang tereksplorasi dibanding unsur-unsur lainnya (arsitektur, budaya, mitologi, dll)

Terlepas dari hal tersebut sebagai sebuah buku pertama yang secara khusus membahas tentang Kelenteng Xie Tian Gong kehadiran  buku dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari tradisi kepercayaan Tionghoa. Tingkat keterbacaan buku ini sangat tinggi, ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti sehingga unsur arsitektur, sejarah, dongeng, dan mitologi yang terdapat dalam buku ini akan terserap dengan baik oleh pembaca dari berbagai kalangan. 

Buku ini juga dapat menjadi semacam buku panduan bagi umat yang biasa beribadah di kelenteng Xie Tian Gong sehingga mereka dapat lebih memahami makna ritual ibadah yang mereka lakukan. Bagi masyarakat umum, buku ini juga bisa dijadikan pegangan ketika berkunjung untuk menikmati keindahan arsitektural dan budaya Tionghoa yang terkandung dalam semua tempat dan sisi dalam bangunan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung ini.

Dan yang pasti, kehadiran buku ini menambah lagi khazanah literatur tentang kota Bandung, kota di Indonesia yang paling banyak ditulis orang dalam bentuk buku. Bagi masyarakat lokal, buku ini tentunya dapat menambah wawasan dan kecintaan masyarakat Bandung akan kota dengan ragam budayanya sehingga mereka akan semakin mencintai dan memelihara kotanya. 

@htanzil

No comments: