Wednesday, November 23, 2016

Lady in Red

[No. 371]
Judul : Lady in Red
Penulis : Arleen A
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 360 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2712-9

Novel Lady in Red berkisah tentang kisah cinta dua wanita penyuka warna merah dalam bentangan waktu seratus tahun (1920-2020) lamanya.  Dimulai dari kisah Betty Liu, seorang gadis Tionghoa sederhana yang kerap menggunakan baju berwarna merah. Betty adalah gadis yang pandai sehingga ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah swasta elit Redwood High School, California, Amerika Serikat. Karena bukan dari kalangan kaya, Betty kerap dipandang sebelah mata dan menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Tak seorangpun mempedulikan Betty kecuali Robert Wotton, teman sekelasnya, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm,  peternakan sapi perah kedua terbesar di Fort Bragg, Caliornia. 

Singkat cerita Betty Liu menikah dengan Robert Wotton, mereka lalu tinggal di Wotton Farm dan mengelola Wotton Farm hingga peternakan sapi mereka menjadi semakin berkembang bahkan mereka dapat membeli Stephen Farm peternakan sapi terbesar di Fort Bragg. Wotton Farm terus bertahan hingga beberapa generasi.

Dari kisah Betty Liu dan Robbert Wotton kisah beralih ke tokoh Rhonda Roth, cicit Betty Liu  salah satu pewaris Wotton  Farm. Rhonda kecil  memiliki seorang pelindung yaitu Gregory Drew (Greg). Seperti Rhonda, Greg juga tinggal di Wotton Farm karena orang tuanya bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda. Kemanapun Rhonda pergi Greg selalu menyertai dibelakangnya sambil membawa tas dan buku-buku Rhonda.  Tanpa disadari ketika keduanya bertumbuh dewasa timbul rasa saling menyayangi diantara keduanya. Rhonda maupun Greg ragu apakah ini cinta? Bagi Greg sendiri ia  berusaha menghalau perasaannya karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi Rhonda.

Ketika Rhonda harus meninggalkan Wotton Farm untuk melanjutkan kuliah di Boston barulah keduanya menyadari arti dari kehilangan. Tak ada yang bisa dilakukan Rhonda selain  membuat puluhan  sketsa wajah Greg yang ia simpan dan rahasiakan dari siapun. Perbedaan jarak dan status (majikan-pelayan) membuat hubungan mereka menjadi berjarak hingga akhirnya Rhonda menyerahkan hatinya pada Brandon Resensky, seorang eksekutif muda sukses yang terus mendekatinya dengan cara-cara romantis yang diluar dugaan. Hubungan Rhonda dan Brandon berlanjut hingga akhirnya  memutuskan untuk bertunangan dan merencakanan sebuah pernikahan.

Ketika pertunangan diresmikan di Wotton Farm, Greg yang kecewa memilih untuk lari menghindar dari kehidupan Rhonda. Ia meninggalkan Wotton Farm dan memilih bekerja di Los Angeles. Sebuah peristiwa yang mengancam peternakan akhirnya memaksa Greg untuk kembali ke Wotton Farm demi menyelamatkan peternakan milik keluarga Rhonda yang telah berdiri selama beberapa generasi. 

Sebenarnya tema novel ini sederhana, yaitu tentang kisah cinta dua pribadi yang berbeda secara status, namun di tangan Arleen A, penulis produktif yang telah menulis ratusan buku anak, kisah cinta ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Penulis termasuk berani mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis lokal yaitu rentang waktu kisah yang panjang ( 1 abad), setting lokasi di Amerika Serikat, dan tokoh-tokoh yang bukan orang Indonesia. Walau novel ini ditulis oleh penulis lokal yang tinggal di Indonesia namun dalam hal pendeskripsian setting lokasi peternakan sapi perah, karakter dan keseharian tokoh-tokohnya semuanya bernuansa barat sehingga saya sependapat dengan dengan beberapa pendapat para blogger buku yang mengatakan bahwa membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan dari penulis asing.

Dari segi romansa kisahnya, penulis mendeskripsikannya dengan sangat baik,  perasaan dan kegalauan para tokoh-tokohnya terungkap dengan baik sehingga kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya. Kita akan dibuat kesal, galau, dan gregetan seakan sedang mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh utamanya.

Walau didominasi dengan kisah romansa percintaan  namun novel ini juga menyajikan sedikit unsur thriller terutama di penghujung novel. Walau ending-nya mungkin berhasil ditebak oleh beberapa pembaca namun sebelum menuju ending penulis menyajikan sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca yang terlanjur terbuai oleh sebuah kisah roman yang apik.

Selain kisah Betty Liu dengan Robert Wotton, Rhonda dengan Brandon, dan gejolak Greg yang berusaha memendam cintanya pada Rhonda, penulis juga menyelipkan kisah Jerry dan Wanda. Jerry, anak pemilik peternakan Stephen Farm  yang dihadirkan sebagai tokoh antagonis. Walau awalnya tampak tak memiliki hubungan dengan tokoh  Betty atau Rhonda namun kelak pembaca akan mengetahui bahwa kisah Jerry dan Wanda ini bukan sekedar kisah tambahan semata.

Satu hal yang menjadi keunikan dalam novel ini adalah adanya interlude-interlude yang mengisahkan dongeng si Topi/Kerudung Merah (Red Ridding Hood) karya Grimm. Sepertinya penulis mencoba menghubungkan dongeng si Kerudung Merah dengan Lady in Red atau katakanlah ini adalah adaptasi atau versi modern dari dongeng tersebut. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan keterkaitan yang jelas antara dongeng si topi Merah dengan novel ini. Atau mungkin saya yang kurang peka? :)

Dalam novel ini penulis membagi kisahnya kedalam tiga  bagian besar berdasarkan periode waktu  yaitu 1920-1955, 2013-2016, 2019-2020. Dari bagian pertama ke bagian kedua terdapat lubang rentang waktu yang cukup panjang (58 tahun) kisahnya pun melompat dari tahun 1955 ke 2013. Ada dua generasi keluarga Wotton yang hilang dari penceritaan. Akan lebih menarik jika penulis mengisi lubang waktu itu dengan kisah oleh kisah salah satu anak atau cucu Betty Liu sehingga novel ini bisa menjadi sebuah kisah kehidupan keluarga Roth yang utuh .

Terlepas dari hal tersebut kehadiran novel ini patut diapresiasi dengan baik. Novel yang dikemas dengan cover yang  menarik ini ternyata memiliki isi yang lebih menarik dari covernya. Walau kisahnya hanya kisah cinta biasa yang dibalut dengan pembalasan dendam masa lampau yang diberi bumbu thriller di penghujung kisahnya, namun karena penulis berhasil menyajikan setting waktu, tempat, dan tokoh-tokoh barat yang jarang digarap oleh penulis lokal maka novel ini  mampu memberi warna  tersendiri dalam khazanah novel-novel lokal saat ini.

@htanzil

No comments:

Post a Comment