Tuesday, September 05, 2017

SEPOER OEAP DI DJAWA TEMPO DOELOE

[No. 376]
Judul : Sepoer Oeap di Djawa Tempo Doeloe
Penulis : Olivier Johannes Raap
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia
Cetakan : I, Juli 2017
Tebal :xx +271 hlm; 19 cm x 24 cm
ISBN : 978-602-424-369-2

Membicarakan sistem transportasi masal antar kota, antar provinsi di pulau Jawa tidak dapat dilepaskan dari kereta api, moda transportasi jarak jauh masal yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat. Kereta api di pulau Jawa sendiri telah memiliki sejarah yang sangat panjang. Hampir semua jalur kereta api yang kini digunakan merupakan jalur yang telah ada semenjak abad ke 19 yang dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda.

Jalur kereta api pertama di Indonesia dibuat di pulau Jawa pada tahun 1867 dengan rute Semarang - Tanggung yang berjarak 26 km yang dibangun oleh perusahaan swasta Nederlandsch-Indische Spoorwegmaatschappij (NIS) / Perusahaan Kereta Api Hindia Belanda. Di kemudian hari akan muncul perusahaan-perusahaan perkeretaapian lainnya. Salah satu yang akan mendominasi adalah perusahaan kereta negara Staats Spoorwagen (SS) yang kelak akan dinasionalisasi menjadi Djawatan Kereta Api (DKA) yang kemudian sekarang menjadi PT Kereta Indonesia (PT KAI)

Awalnya kereta api pertama  menggunakan tenaga uap yang dalam bahasa Belanda disebut spoor yang sebenarnya artinya adalah jalur kereta api. Namun bagi orang Jawa spoor diartikan sebagai kereta api yang kemudian oleh orang lidah orang Jawa  menjadi kosa kata baru, yaitu sepur. Buku ini mencoba menyelusuri keberadaan sepur uap/kereta api uap di Jawa tempo dulu melalui kartu pos yang terbit mulai dari thn 1900-an hingga berakhirnya era lokomotif uap di  tahun 1970an.

Buku yang memuat ratusan lembar kartu pos bergambar kereta api disertai deskripsi singkat namun informatif  tentang apa yang ada tiap lembar kartu pos  ini dibagi dalam 17 bab. Sebelum menyajikan uraian tentang kartu pos, penulis mengawalinya dengan sebuah pengantar tentang apa itu Sepur, sejarah awal perkembangan kereta api di Jawa berserta jaringannya, tempat pemberhentian kereta (stasiun, halte, stooplaats), jenis lokomotif, tentang kartu pos (produsen, perangko, cap pos), dan lain-lain.

Penyusunan buku ini dibagi berdasarkan lintas dan jaringan terbatas, yang dibangun di masa awal perkembangan kereta api oleh perusahaan kereta api yang beroperasi pada zaman itu dimana semua perusahaan memiliki sejarah dan sifat tersendiri yang menarik untuk didalami. Dengan demikian melalui ratusan kartu pos yang disusun secara komprehensif oleh penulisnya kita akan mendapatkan sejarah perkerataapian di Jawa melalui  kartu pos. Tak hanya kereta, penulis juga menyajikan bab khusus mengenai kartu pos bergambar  trem (kereta api ringan) yang ada di Pulau Jawa.

Dari setiap narasi yang ada di tiap lembar kartu pos kita akan melihat bagaimana penulis memiliki pengetahuan yang cukup mendalam akan sejarah dan jenis-jenis kereta api uap tempo dulu disertai pengamatan yang sangat jeli ketika mendeskripsikannya. Saking jelinya penulis bisa melihat dan menuliskan kode lokomotif, nama bangunan, dan menarasikan  semua hal-hal detail yang mungkin luput dari pengamatan kita.

Berdasarkan riset dan pengetahuannya, penulis juga mengoreksi keterangan yang salah yang tercetak di beberapa lembar kartu pos, misalnya salah penulisan lokasi, jurusan kereta api, dan sebagainya.  Tidak hanya itu, keterangan masih dibuka tidaknya  jalurnya kereta api, sejak dan sampai kapan lokomotif beroperasi, pabrik pembuatnya, dan di mana  lokomotif tua itu kini disimpan ada dalam setiap keterangannya. 

Ada berbagai hal menarik yang bisa diamati dalam kartu-kartu pos dalam buku ini, antara lain kartu pos bergambar stasiun Pasuruan yang dibuka pada 1878, stasiun tertua di Indonesia yang hingga kini masih aktif dan dilestarikan dalam keadaan aslinya. 

Stasiun Pasuruan dulu (kartu pos 1900an) dan sekarang


Selain menggambarkan  bangunan stasiun, kereta api, jembatan kereta api, lanskap indah jalur kereta, dan sebagainya, penulis juga menyajikan kartu pos bergambar kecelakaan kereta. Ada dua kartu pos bertema kecelakaan kereta yang tersaji dalam buku ini. Hal ini  menginformasikan pada kita bahwa di masa lampau kartu pos juga dapat berfungsi sebagai  sebuah berita dalam bentuk foto.

Kartu Pos Lokomotif terbalik (1920)

Dalam buku ini pada kartu pos Stasiun Semarang Jurnatan  terungkap juga bangunan Rijwielfabriek "Insulinde"  pabrik sepeda pertama di Hindia Belanda yang letaknya berdekatan dengan Stasiun Jurnatan. Pada keterangan kartu pos Stasiun Solo Jebres  terungkap bahwa stasiun Jebres juga dikenal sebagai Stasiun Solo Kraton dimana terdapat ruang tunggu khusus untuk Sri Sunan.

Pabrik Sepeda pertama di Hindia Belanda

Sebagian besar kartu pos dalam buku ini tersaji dengan warna sephia dan hitam putih namun ada pula beberapa kartu pos  berwarna sesuai dengan aslinya. Semuanya tercetak dengan sangat baik di atas kertas art paper yang mengkilap sehingga membuat  semua foto dalam buku ini menjadi tajam dan dikemudian hari kelak akan lebih awet tanpa terdistorsi oleh jamur, kelembapan, dll seperti jika dicetak menggunakan kertas biasa.

Sebagai sebuah buku yang secara spesifik menyajikan kartu pos bergambar kereta uap jaman dulu tentunya buku ini memberikan sebuah sumbangsih besar bagi pemerhati dan  pecinta kereta api khususnya kereta api uap tempo dulu.  Buku ini juga bisa menjadi  pelengkap buku-buku sejarah kereta api di Indonesia. Dan bagi mereka yang tergabung dalam komunitas heritage kereta api dan penelusur jalur-jalur kereta api yang sudah tidak aktif buku ini bisa menjadi sebuah panduan untuk penjelajahan mereka. 

Saat ini kartu-kartu pos kuno dari Indonesia menjadi barang yang sangat langka untuk diperoleh. Generasi orang yang yang dahulu pernah menerima dan menyimpan kartu pos mulai punah. Kalaupun ada mungkin hanya sedikit yang memilikinya sehingga generasi sekarang dan yang akan datang akan sulit menemukan atau bahkan sekedar melihatnya saja.

Apa yang dilakukan oleh penulis patut diapresiasi setinggi-tingginya. Sebagai seorang kolektor kartu pos kuno ia tidak hanya ingin menikmati sendiri ribuan koleksinya. Ia bagikan kartu-kartu posnya lewat buku-bukunya sehingga generasi kini dan generasi yang akan datang bisa mengetahui, mengenal bahwa kartu pos pernah begitu populer sebagai sebuah alat komunikasi. Tidak itu saja, melalui kartu pos kita juga bisa belajar dan mengenal sejarah yang terekam dalam tiap lembarnya.

Buku Sepoer Oeap di Djawa Tempo doeloe ini  adalah buku ke 4 Olivier  Johannes Raap, kolektor ribuan kartu pos kuno bertema Jawa yang sebelumnya telah menebitkan buku-buku sejenis (buku tentang kartu pos) yaitu Pekerja di Djawa Tempo Doeloe (2013), Soeka Doeka di Djawa Tempo Doeloe (2013), Kota di Djawa Tempo Doeloe (2015). 

 @htanzil

Tuesday, May 16, 2017

SERBU! Pengisahan Belanja Buku

[No. 375]
Judul : SERBU! Pengisahan Belanja Buku
Editor : Bandung Mawardi
Penerbit : Bilik Literasi
Cetakan : I, Maret 2017
Tebal : 120 hlm
ISBN : 978-602-609-6302

Bagi para penggila buku, berbelanja buku ibarat berburu harta karun. Hasrat untuk memperoleh buku dengan harga murah adalah hasrat yang tak akan pernah padam. Apapun akan mereka usahakan, kalau perlu berkorban dengan memotong anggaran untuk membeli baju, makan, dll asal buku-buku yang dicari terbeli.

Kisah reportase bagaimana para penggila buku, para essais muda yang tergabung dalam komunitas Bilik Literasi - Solo  ketika  berburu buku di Blok M Jakarta tertuang dalam buku ini.  Masing-masing menulis dengan gaya dan sudut pandangnya masing-masing bagaimana pengorbanan mereka dan bagaima keseruan mereka saling adu cepat berebut buku ketika mereka berada di lapak buku yang sama.

Buku-buku yang mereka buru bukanlah buku-buku baru melainkan buku-buku lawas yang mungkin sudah lama disingkirkan dari display toko-toko buku besar. Tidak heran perburuan buku yang mereka alami adalah perburuan yang menegangkan karena untuk satu judul jumlahnya sangat terbatas atau bahkan mungkin hanya ada satu ekslempar saja. Untuk itu harus saling berlomba cepat untuk mengambil sebuah buku yang sama-sama menjadi incaran mereka.

Belanja buku bareng kawan-kawan Bilik Literasi selalu membahagiakan sekaligus menegangkan. Selalu saja penuh tarik ulur buku-buku apik yang ketersediaannya terbatas. Senggol kanan-kiri, rebutan buku edisi yang  mungkin tak cetak ulang lagi
(hlm 101-102)

Kesepuluh essais yg berburu buku di Blok M ini bukanlah orang-orang yang berkelebihan secara materi, mereka harus mengatur anggaran sehari-hari agar dapat menyisihkan sejumlah uang untuk membeli buku. Bahkan ada yang hanya bermodalkan 50 ribu  ruipah saja. Namun hal ini tidak menghalangi antusiasme mereka untuk berbelanja buku karena bagi mereka buku adalah sebuah kebutuhan utama agar mereka bisa menulis essai di koran atau majalah.

Karena dikisahkan secara personal, jujur, dan apa adanya maka kesepuluh kisah dalam buku ini menjadi begitu bersahaja dan menarik bahkan menginsporasi karena tak jarang beberapa quote menarik terselip di dalam keseruan pengalaman mereka berburu  misalnya apa yang diungkapkan oleh Hanputro Widyono tentang bagaimana dia bersama komunitas Bilik Literasi memuliakan buku:

Tampaknya bukan cara kami untuk "memuliakan" buku dengan menaruhnya di rak-rak besar nan mewah. Membuat buku lebih mirip barang pajangan. Apalagi kalau rak berbentuk lemari kaca yang berada di ruang tamu. Ah itu mirip laku intelektuil-intelektuil kelas wahid. Sedangkan kami, selalu didambakan tetap menjadi "amatir": penulis esais, peresensi amatir......agar kami tetap merasa bodoh dan tak berhenti sinau (belajar) untuk semakin mengeri kebodohan diri sendiri. Kesederhanaan - boleh juga disebut juga kemiskinan -kami membuat satu-satunya cara yang mungkin untuk memuliakan buku yaitu lewat membaca dan menjadikannya referensi 
menggarapan essai. 
 (hlm 31)

 atau bagaimana Mutimmatun Nadhifah dalam tulisan berjudul Pada Suatu Hari, Sekardus Buku: yang menulis bahwa 

Belanja buku adalah bekal menjadi perempuan bercerita. Aku tak ingin memiliki nasib buruk karena tak menjadi pembaca buku dan cukup bahagia menjadi bagian jamaah pengajian, peserta seminar kampus, tapi ditanya soal feature malah menjawab baru dengar 
(hlm. 18).

Selain kisah  berburu buku, masing-masing penulis juga dengan bangga melaporkan buku-buku apa saja yang mereka peroleh beserta beberapa foto cover buku dan  sedikit ulasan atau pertanggungjawaban mengapa mereka membeli buku-buku tersebut. Hal ini membut buku ini menjadi semakin bermanfaat bagi para pembaca buku karena sangat mungkin  beberapa buku  yang mereka beli adalah buku yang sedang kita butuhkan. Walau semua yang dibeli adalah buku-buku lawas beberapa diantaranya mungkin saja baru kita ketahui atau sudah kita lupakan karena derasnya buku-buku baru bermunculan di toko-toko buku.

Akhir kita seluruh  kisah kesepuluh pemburu buku yang ditulis dengan antusiasme yang menggebu-gebu  ini akan membuat pembaca yang doyan buku terhanyut dalam serunya mereka berbelanja. Buku ini adalah catatan reportase kecil yang sayang untuk diabaikan. Lewat buku ini kita akan melihat bagaimana semangat juang mereka berburu buku.  Selain itu, yang lebih penting, belanja buku bagi mereka bukan sekedar memuaskan hasrat mereka untuk  mengoleksi buku saja, namun buku-buku tersebut akan mereka baca dan jadikan sebagai sumber referensi bagi essai-essai yang akan mereka tulis dan mereka kirimkan ke berbagai koran dan majalah. 

Apa yang mereka lakukan terhadap buku adalah sebuah teladan berharga bagaimana seharusnya kita memuliakan buku.

@htanzil

Wednesday, April 19, 2017

Suatu Hari Dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer

[No. 374]
Judul : Suatu Hari dalam Kehidupan 
Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Alfred D. Ticoalu
Penerbit : Epigraf
Cetakan : I, 2017
Tebal : 191 hlm
ISBN : 978-602-60914-0-6

Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah legenda sastra Indonesia dan ikon perlawanan terhadap ketidakadilan yang karya maupun kisah hidupnya selalu dibaca dan dibicarakan orang hingga kini. Dalam 81 tahun  hidupnya yang hampir separuhnya  dilaluinya di penjara/pengasingan  Pram ternyata pernah mengadakan road show  ke Amerika dan Kanada tidak lama setelah era rerformasi bergulir. Satu hal yang tidak mungkin terjadi di era Orde Baru dimana  Pram tentunya akan sangat sulit mendapat paspor karena telah mendapat stigma buruk dari pemerintah Orde Baru sebagai sastrawan komunis yang berbahaya.

Tidak banyak yang tahu apa saja yang dilakukan Pram saat berkunjung ke Amerika & Kanada. Mungkin episode kehidupan Pram ini terlupakan oleh episode kehidupan Pram yang lain karena Pram tidak pernah menuliskan apa yang dilakukannya selama di negeri Paman Sam hingga akhir hanyatnya. Beruntung ada Alfred Ticoalu, seorang penggemar karya-karya Pram yg saat itu sedang menuntut ilmu di New York, AS menuliskan pengalaman pribadinya bertemu dengan sang idolanya.

Buku ini berisi 21 kisah pengalaman atau catatan perjalanan penulis selama memandu Pram bersama rombongan mengunjungi Cornell University, Fordham University, dan beberapa tempat lainnya di Amerika dan Kanada.  Ditulis dengan gaya personal dengan candaan spontan  yang menghibur membuat apa yang dipikirkan, dilihat, dan dirasakan penulis selama mendampingi Pram menjadi begitu hidup sehingga kita seolah berada bersama-sama dengan Pram dan rombongannya.

Setelah mengisahkan bagaimana penulis bisa berkesempatan bertemu langsung dengan idolanya hingga menjadi pemandu bagi Pram dan rombongannya, penulis langsung mengisahkan bagaimana ketika dalam sebuah pertemuan umum di Asia Society, New York City, dengan keberanian penulis menanyakan hal yang mungkin menjadi pertanyaan semua yang hadir saat itu dan yang juga mungkin menjadi pertanyaan kita selama ini yaitu,  apakah Pram itu seorang komunis?

"Orang-orang berkata Bapak adalah seorang komunis, dan karena inilah karya-karya Bapak dilarang di Indonesia......apakah Bapak seorang Komunis?

(jawaban Pak Pram)

"Ya memang pemerintah Orde Baru telah mengangkat saya sebagai komunis. ...dan ini diperkuat oleh pers Orde Baru. Tuduhan itu sudah ada sejak masa Orde Lama. Tapi kalau ditanyakan, saya ini komunis nomor berapa di Indonesia? Nggak ada yang bisa jawab. Komunis siapa yang membina saya? Saya tidak tahu. Saya pribadi hanya berpihak kepada kebenaran, keadilan, kemanusiaan. Ini yang pernah saya katakan 'Pramisme'."  (hlm 33-34)


Ada banyak hal menarik yang bisa diperoleh dari buku ini. Pemikiran Pram yang terungkap lewat kutipan pidato, wawancara, serta pemikiran Joesoef Isak (editor karya-karya Pram), dan pemikiran-pemikiran penulis sendiri yang merupakan refleksi dari setiap apa yang telah ia alami bersama Pram berkelindanan saling melengkapi di setiap kisahnya. Lalu ada pula kisah pengalaman Pram dan Joeseof Ishak selama di pengasingan, dan  bagaimana naskah Tetralogi Bumi Manusia Pram bisa keluar dari P. Buru dan diterbitkan untuk pertama kalinya di Belanda berkat jasa seorang pastor Jerman

Dengan semua hal tesebut  buku ini bukan hanya sekedar sebuah catatan perjalanan atau kisah perjumpaan antara sang maestro dengan penggemarnya melainkan sebuah buku yang menyajikan pemikiran Pram dan refleksi dari penulis yang mampu membangun kesadaran pembaca buku ini dalam hal kemanusiaan, ketidakadilan, dan demokrasi

Tidak hanya hal-hal yang serius, kisah-kisah dalam buku ini juga mengungkap sisi-sisi manusiawi Pram, seperti kebiasaannya merokok, Pram yang  tiba-tiba suka mengasingkan diri di tengah keramaian dan tenggelam dalam dunianya sendiri, guyonan Pram dalam keseharian, kebiasaannya yang kerap buang air kecil,  hingga kisah lucu bagaimana Pram tiba-tiba dalam sebuah kunjungan personal menolak untuk turun dari mobil dengan alasan kelelahan padahal sebenarnya celana Pram telah basah karena tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil.

Seluruh kisah dalam buku ini pernah dimuat oleh penulisnya dalam web Pramoedya Ananta Toer yang sengaja dibuat oleh penulis atas kecintaannya terhadap karya-karya Pramoedya di tahun 1999. Saya pribadi termasuk pengunjung setia webnya dan selalu menanti munculnya postingan baru dari Bung Alfred. Tidak itu saja saya bahkan memprint ke 21  kisahnya beserta hampir seluruh materi yang ada di web tersebut. 

Delapan belas  tahun kemudian, kisah perjalanan Pram ke Amerika & Kanadan itu diterbitkan menjadi sebuah buku. Apakah sudah sangat terlambat? Jika dilihat dari kapan penulis menuliskan pengalamannya dan dan kapan tulisannya  diterbitkan tentu saja sangat terlambat. Namun karena  buku ini turut merekam pemikiran dan perjuangan Pram untuk menciptakan Indonesia yang lebih adil, demokrasi,  dan bermartabat, buku yang terlambat terbit hampir dua dekade ini menjadi tetap relevan karena apa yang diperjuangkan oleh Pram dan nilai-nilai Pramisme itu belum sepenuhnya terwujud di negeri tercinta ini.

Berikut saya tutup review sederhana atas buku ini dengan petikan wawancara Pram dengan audiens di sebuah pertemuan di Toronto Kanada tahun 1999 seperti yang dimuat di buku ini

"Apa yang akan Pak Pram  lakukan kalau Pak Pram jadi Presiden?"

"Presiden? Wah, ini kalau ya...Kalau jadi presiden, akan saya ciptakan pemerintahan desa. Bergabung dan bekerja samalah. Bentuk sebuah paguyuban sehingga Anda memiliki juru bicara dan dengan demikian suara Anda akan terdengar dan tersalurkan"
 (hlm. 135-135)

@htanzil

Alfred D. Ticoalu saat diwawancarai oleh VOA (Voice of America) di kediamannya 
terkait terbitnya buku "Suatu Hari dalam Kehidupan Pramoedya Ananta Toer.

Sumber foto :
Nia Ntes Iman-Santoso
(VOA Indonesia)

Tuesday, April 04, 2017

Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng

[No.373]
Judul : Kelenteng Xie Tian Gong (Hiap Thian Kiong, Vihara Satya Budhi) & Tiga Liutenant Tionghoa di Bandoeng
Penulis : Sugiri Kustedja
Penerbit : Bina Manggala Widya
Cetakan : I, 2017
Tebal : 299 hlm
ISBN : 978-602-18659-7-2

Seperti halnya di kota-kota besar di Indonesia keberadaan Orang-orang Tionghoa di Bandung telah ada sejak lama dan telah  menjadi bagian dari kehidupan kota Bandung. Hingga kini belum diketahui secara pasti sejak kapan awal mula kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung.  Kemungkinan besar gelombang pertama kedatangan orang Tionghoa ke Bandung baru dimulai pada tahun 1810 ketika Gubernur Jenderal Daendels mengeluarkan Besluit van den Zomermaand,   yang mengatur penempatan orang-orang Tionghoa di Cianjur, Bandung, Parakanmuncang dan Sumedang. Satu-satunya data yang tercatat ada di data yang dikumpulkan peneliti asal Belanda P. Bleeker (1815-1875) yang mencatat bahwa  pada tahun 1845  ada 13 orang Cina di distrik Bandung.

Keberadaan orang-orang Tionghoa semakin berkembang semenjak Belanda membuka daerah Priangan yang tadinya tertutup bagi orang asing di pertengahan abad ke 19, terlebih ketika dibangunnya jalur kereta api di wilayah Priangan di akhir abad ke 19 dimana orang-orang Tionghoa ikut berperan dalam pembangunannya. Ketika komunitas orang-orang Tionghoa semakin banyak tentunya mereka membutuhkan sebuah sarana untuk beribadah, untuk itu pada tahun 1885 dibangunlah kelenteng pertama di Bandung yang diberi nama Sheng -Di-Miao (Kelenteng Kaisar Suci) yang kemudian menjadi Xie Tian Gong/Hiap Thian Kiong yang secara harafiah berarti Istana Pembantu Penguasa Langit/Alam Semesta.

 Tahun 1920-an

Di era Orde Baru dengan dilarangnya nama dan segala sesuatu yang berbau Tiongkok oleh pemerintah nama kelenteng ini dirubah menjadi Vihara Satya Budhi. Baru pada masa kepemimpinan Presiden Abdurrahman Wahid, ketika etnis Tionghoa diberi kebebasan dalam menjalankan budaya, tradisi dan kepercayaannya. Nama Kelenteng Xie Tian Gong kembali muncul tanpa menghilangkan  nama Vihara Satya Budhi

Buku ini merupakan  buku pertama yang mengupas secara lengkap tentang kelenteng tertua di Bandung yg kini telah berusia 131  tahun. Buku yang ditulis oleh Sugiri Kustedja seorang doktor di bidang arsitektur ini  merupakan hasil penelitian yang dilakukan selama beberapa tahun untuk program studi doktoralnya di bidang arsitektur. Dalam bukunya ini penulis mengawalinya dengan penjelasan mengenai istilah Klenteng dan Vihara yang sering dianggap sama namun ternyata berbeda karena istilah vihara sebenarnya diperuntukkan bagi kuil Budha sedangkan Kelenteng diperuntukkan untuk para penganut kepercayaan Tao (Konfusius).  Kemudian dijelaskan juga secara singkat mengenai sejarah berdirinya Klenteng ini beserta nama dan maknanya.

Setelah itu secara berurutan penulis merinci lokasi kelenteng dan tata letak ruangan dan bangunan kelenteng termasuk benda-bendanya mulai dari pintu gerbang, singa batu penjaga, teras, pintu masuk utama bangunan, lantai, kolom bangunan, hingga ornamen pada wuwungan atap yang ternyata memiliki makna dan arti sendiri sehingga pembaca akan memahami bahwa kelenteng bukan sekedar rumah ibadah saja melainkan sebuah representasi dari alam semesta yang harmonis. Setelah itu penulis juga mendeskripsikan setiap mural yang ada pada dinding bangunan kelenteng lengkap dengan kisah yang mendasari lukisan tersebut dibuat.

Pembahasan mengenai prasasti pembangunan, perbaikan kelenteng, sirkulasi umat saat ritual pribadi, tokoh utama Kim Sin, rupang tuan rumah, perlengkapan ritual, daftar ketua pengurus kelenteng dari masa ke masa, dll juga membuat buku tentang kelenteng ini menjadi lengkap.  Dan yang tidak kalah menarik adalah dua lampiran tentang tiga liutenant Tionghoa di Bandoeng (1881-1917), dan lampiran tentang hirarki dan posisi berdasarkan model Mikro-Kosmos Yin-Yang pada Kelenteng Tradisional.

Buku ini menghadirkan juga  ratusan foto berwarna yang disajikan beriringan dengan apa yang sedang dibahas  sehingga kita dapat lebih memahami apa yang dideskripsikan oleh penulis lewat sajian visual yang tercetak secara baik.


 Tahun 2017 (Sumber foto : http://www.alaikaabdullah.com)

Bisa dikatakan buku ini sangat bergizi bagi mereka yang ingin mengetahui tentang kelenteng tertua di Bandung. Melalui buku ini kita tidak hanya diajak melihat apa isi kelenteng berserta arsitekturnya melainkan juga budaya dan kisah-kisah klasik dan mitologi  Tiongkok kuno  yang sarat makna dapat kita peroleh. Lampiran khusus tentang tiga Liutenant Tionghoa di Bandung yang memiliki keterkaitan dengan kelenteng Xie Tian Gong menjadi nilai tambah buku ini karena selama ini belum ada bahasan khusus dalam buku manapun dalam bahasa Indonesia tentang para Liutenant Tionghoa Bandung.

Yang agak disayangkan adalah sejarah kedatangan orang-orang Tionghoa di Bandung yang tentunya berkaitan erat dengan sejarah kelenteng ini tidak dibahas secara detail dalam buku ini. Sejarah berdirinya kelenteng pun hanya disebutkan sekilas saja sehingga bisa dikatakan unsur kesejarahan dalam buku ini kurang tereksplorasi dibanding unsur-unsur lainnya (arsitektur, budaya, mitologi, dll)

Terlepas dari hal tersebut sebagai sebuah buku pertama yang secara khusus membahas tentang Kelenteng Xie Tian Gong kehadiran  buku dapat menjadi rujukan bagi siapa saja yang ingin mempelajari tradisi kepercayaan Tionghoa. Tingkat keterbacaan buku ini sangat tinggi, ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti sehingga unsur arsitektur, sejarah, dongeng, dan mitologi yang terdapat dalam buku ini akan terserap dengan baik oleh pembaca dari berbagai kalangan. 

Buku ini juga dapat menjadi semacam buku panduan bagi umat yang biasa beribadah di kelenteng Xie Tian Gong sehingga mereka dapat lebih memahami makna ritual ibadah yang mereka lakukan. Bagi masyarakat umum, buku ini juga bisa dijadikan pegangan ketika berkunjung untuk menikmati keindahan arsitektural dan budaya Tionghoa yang terkandung dalam semua tempat dan sisi dalam bangunan kelenteng tertua dan terbesar di Bandung ini.

Dan yang pasti, kehadiran buku ini menambah lagi khazanah literatur tentang kota Bandung, kota di Indonesia yang paling banyak ditulis orang dalam bentuk buku. Bagi masyarakat lokal, buku ini tentunya dapat menambah wawasan dan kecintaan masyarakat Bandung akan kota dengan ragam budayanya sehingga mereka akan semakin mencintai dan memelihara kotanya. 

@htanzil