Tuesday, January 31, 2017

Lost in The USA

[No.372]
Judul : Lost in The USA - Perjuangan Seorang Remaja Menaklukkan Amerika dengan Modal Pas-Pasan
Penulis : Fathi Bawazier
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 276 hlm
ISBN : 978-602-03-2687-0

Novel ini ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya, Fathi Bawazier selama ia mengadu nasib di Amerika pada tahun 1984-1991. Saat ini penulis berprofesi sebagai direktur percetakan besar Cipta Grafika, speaker, dan motivator. Novel ini menceritakan pengalaman tokoh Fathin, remaja badung yang oleh teman-teman SMA nya dijuluki sebagai 'Anak Garpu' karena menggunakan garpu makan sebagai sisir untuk merapikan rambut kribonya dalam mewujudkan mimpinya untuk dapat menuntut ilmu sambil bekerja di luar ngeri.

Selepas lulus dari SMA sebenarnya Fathi berniat melanjutkan ke ITB atau UI, sayangnya karena tidak diterima di universitas favoritnya Fathi dengan nekad memutuskan untuk merantau, mencari peruntungan nasib di luar negeri. Pilihan nekad karena ia bukan berasal dari keluarga kaya yang sanggup untuk membiayai kehidupannya di luar negeri.

Awalnya Fathi hanya ingin merantau ke Australia. Tidak mudah karena berkali-kali pengajuan visanya ke negeri kangguru itu ditolak. Fathi tidak menyerah hingga akhirnya ia mendapat visa turis yang hanya mengizinkannya tinggal  di Australia selama 14 hari saja. Dengan visa turis tersebut Fathi mencoba mencari pekerjaan, ia memang berhasil tinggal dan bekerja di Austalia namun hanya  beberapa bulan saja karena keburu ketahuan petugas imigrasi sehingga Fathi harus ditahan di penampungan bagi imigran gelap untuk segera dipulangkan ke Indonesia.

Kegagalannya meniti karir di Australia tidak mematahkan semangatnya untuk meraih penghidupan yang lebih baik di luar negeri. Alih-alih kapok, Fathi malah ingin mencoba peruntungan nasib di Amerika Serikat. Setelah berhasil mendapatkan visa. Dengan membawa uang pas-pasan Fathi bersama sepupunya berangkat menuju Amerika. Perjalanan nekad karena di sana ia sama sekali tidak memiliki kenalan atau saudara yang akan membimbingnya. Ia hanya tahu Amerika dari film-film yang pernah ia saksikan.

Sesampainya di Amerika beragam kesulitan harus dihadapi. Setelah sempat terlunta-lunta di Los Angeles dan dibayangi ketakutan akan diciduk oleh petugas imigrasi atau ditolak kerja karena tidak memiliki green card akhirnya Fathi mendapat pekerjaan di sebuah pom bensin. Mulai dari bawah ia menapak karirnya, Keuletan, tekad yang kuat, dan anugerah Allah mengantarnya ke posisi yang diidamkannya yaitu sebagai Manajer di Mobil Oil Corporation, perusahaan perminyakan kelas dunia. Tidak itu saja Fathi bahkan bisa mengikuti kuliah hingga akhirnya sebuah peristiwa mengharuskan dirinya pulang kembali ke Indonesia dan meninggalkan apa yang telah ia perjuangkan dengan susah payah.

Kisah kehidupan Fathi meniti karir di Amerika dalam novel ini disajikan secara menarik. Penulis menghadirkan rentetan pengalaman-pengalaman menarik baik suka maupun duka Fathi di sepanjang novelnya ini sehingga pembaca tidak merasa bosan dan penasaran untuk mengetahui bagaimana akhir dari kisahnya. Gambaran kehidupan di Amerika  terdeskripsi dengan detail sehingga kita  seolah mengalami, merasakan, dan melihat apa yang dialami penulisnya termasuk  gambaran masyarakat beserta budaya kerja orang Amerika, kehidupan para imigran, dan bagaimana keberadaan masyarakat muslim di sana di tahun 80-90an.

Sejumlah pesan-pesan motivasi mengenai tekad dan pesan-pesan religi Islami juga terselip dalam novel ini. Untungnya semua disajikan dalam porsi yang pas dan menyatu dalam kisahnya sehingga pembaca tidak akan merasa digurui atau dikotbahi. Bahkan pembaca non muslim pun saya rasa tetap bisa menikmati novel ini karena pesan-pesan religi yang ada di novel ini bersifat universal dan mudah dipahami oleh semua orang.

Melalui pengalaman penulis yang tertuang dalam novel yang inspiratif ini pembaca dimotivasi untuk bekerja keras dan doa    untuk meraih kesuksesan walau ada banyak tantangan yang dihadapi. Prinsip-prinsip kejujuran dan iman yang kuat juga ditunjukkan oleh  Fathi dalam novelnya ini, misalnya  ketika ia menolak untuk bekerja saat harus menunaikan ibadah sholat. Masih banyak hal-hal positif lainnya yang bisa pembaca peroleh dari novel inspiratif ini sehingga novel ini cocok dibaca oleh siapa saja yang memiliki mimpi untuk menjadi sukses tanpa harus mengorbankan prinsip-prinsip kejujuran dan iman. 


@htanzil

Catatan :
Menurut informasi yang saya peroleh, saat ini Gramedia sedang memproses untuk cetakan ke II-nya, dan penulis sedang menulis lanjutan dari novelnya ini yang mengisahkan bagaimana perjuangan penulis sepulang dari Amerika dalam mencari rejeki halal dan mendirikan perusahaan di Indonesia.
1. LOST IN THE USA-FATHI BAWAZIER Dari judulnya mungkin kebanyakan akan memiliki menyimpulkan bahwa ini adalah novel traveling. Awalnya saya juga berpikir begitu, dan memang benar, ini mengenai perjalanan. Tapi…. Bukan hanya mengenai perjalanan seorang Backpacker sejati, namun juga perjalanan hidup seorang remaja yg terlalu sayang jika hanya menjadi kenangan pelakunya saja, karena apa yg dialami penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan yg dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, maka inilah yang membuat Lost in The USA merupakan novel yang juga berisikian nilai-nilai religi dan motivasi. Mengisahkan tentang perjuangan hidup inspiratif yang sarat pengorbanan ini, menghipnotis pembacanya untuk terus membuka halaman demi halaman. Hidup di luar negeri tanpa sanak saudara dan berbagai kisah yang menggambarkan kebulatan tekad dan keberanian untuk nekat berdasarkan dari kisah hidup yang di alami oleh penulisnya ini membuat pembaca hanyut dan seolah ikut menjalani hari-hari sulit bersama Fathi muda puluhan tahun silam. Salutnya penggambaran latar tempat dan suasana dalam rangkaian kata di novel ini mampu membawa kita seakan ada di sana, bersama tokoh utama menyaksikan perjuangannya. Ya, penyampaian cerita dengan pemilihan diksi yang tepat membuat pembaca seperti tengah menonton film di layar lebar. Teladan-teladan yang dikisahkan penulis memotivasi saya pribadi untuk tetap teguh pada nilai agama sebagai pegangan utama dalam menjalani hidup. Sesulit dan seterhimpit apapun, ketika kita yakin ada Yang Maha Menolong, maka pertolongan pun akan tiba pada kita, seperti Firman-Nya “Aku sebagaimana prasangka umatku.” Banyak kisah yang mampu kita ambil hikmah dan di jadikan cerminan yang dapat diambil ambil dari novel ini, salah satunya adalah ketika tokoh utama tengah di landa keraguan pada profesi yang tengah di jalaninya apakah halal untuknya atau tidak, maka dia kembalikan keyakinan seutuhnya hanya kepada Sang Khalik, sumber keraguannya ia tinggalkan. Memulai kembali dari nol, dengan kembali percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Menolong, menjadi self reminder bagi saya untuk tidak perlu ragu pada apa-apa ketetapan Allah. Novel ini candu, alurnya berhasil membuat saya terlarut dalam kehidupan yang di kisahkan penulis. Novel ini memiliki ciri khasnya sendiri, membuat pembaca penasaran akan kisah Fathi selanjutnya. Semoga segera terbit novel Lost In The USA 2 nya yaa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hildapurnamasa/novel-gramedia-terbaru-2016_57b680621fafbdfb71f39f8e
Bukan hanya mengenai perjalanan seorang Backpacker sejati, namun juga perjalanan hidup seorang remaja yg terlalu sayang jika hanya menjadi kenangan pelakunya saja, karena apa yg dialami penuh dengan hikmah-hikmah kehidupan yg dapat menjadi inspirasi bagi pembaca, maka inilah yang membuat Lost in The USA merupakan novel yang juga berisikian nilai-nilai religi dan motivasi. Mengisahkan tentang perjuangan hidup inspiratif yang sarat pengorbanan ini, menghipnotis pembacanya untuk terus membuka halaman demi halaman. Hidup di luar negeri tanpa sanak saudara dan berbagai kisah yang menggambarkan kebulatan tekad dan keberanian untuk nekat berdasarkan dari kisah hidup yang di alami oleh penulisnya ini membuat pembaca hanyut dan seolah ikut menjalani hari-hari sulit bersama Fathi muda puluhan tahun silam. Salutnya penggambaran latar tempat dan suasana dalam rangkaian kata di novel ini mampu membawa kita seakan ada di sana, bersama tokoh utama menyaksikan perjuangannya. Ya, penyampaian cerita dengan pemilihan diksi yang tepat membuat pembaca seperti tengah menonton film di layar lebar. Teladan-teladan yang dikisahkan penulis memotivasi saya pribadi untuk tetap teguh pada nilai agama sebagai pegangan utama dalam menjalani hidup. Sesulit dan seterhimpit apapun, ketika kita yakin ada Yang Maha Menolong, maka pertolongan pun akan tiba pada kita, seperti Firman-Nya “Aku sebagaimana prasangka umatku.” Banyak kisah yang mampu kita ambil hikmah dan di jadikan cerminan yang dapat diambil ambil dari novel ini, salah satunya adalah ketika tokoh utama tengah di landa keraguan pada profesi yang tengah di jalaninya apakah halal untuknya atau tidak, maka dia kembalikan keyakinan seutuhnya hanya kepada Sang Khalik, sumber keraguannya ia tinggalkan. Memulai kembali dari nol, dengan kembali percaya sepenuhnya bahwa Allah Maha Menolong, menjadi self reminder bagi saya untuk tidak perlu ragu pada apa-apa ketetapan Allah. Novel ini candu, alurnya berhasil membuat saya terlarut dalam kehidupan yang di kisahkan penulis. Novel ini memiliki ciri khasnya sendiri, membuat pembaca penasaran akan kisah Fathi selanjutnya. Semoga segera terbit novel Lost In The USA 2 nya yaa.

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/hildapurnamasa/novel-gramedia-terbaru-2016_57b680621fafbdfb71f39f8e

Wednesday, November 23, 2016

Lady in Red

[No. 371]
Judul : Lady in Red
Penulis : Arleen A
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan : I, 2016
Tebal : 360 hlm ; 20 cm
ISBN : 978-602-03-2712-9

Novel Lady in Red berkisah tentang kisah cinta dua wanita penyuka warna merah dalam bentangan waktu seratus tahun (1920-2020) lamanya.  Dimulai dari kisah Betty Liu, seorang gadis Tionghoa sederhana yang kerap menggunakan baju berwarna merah. Betty adalah gadis yang pandai sehingga ia mendapat beasiswa untuk bersekolah di sekolah swasta elit Redwood High School, California, Amerika Serikat. Karena bukan dari kalangan kaya, Betty kerap dipandang sebelah mata dan menerima ejekan dari teman-teman sekolahnya. Tak seorangpun mempedulikan Betty kecuali Robert Wotton, teman sekelasnya, anak dari pemilik Wotton Dairy Farm,  peternakan sapi perah kedua terbesar di Fort Bragg, Caliornia. 

Singkat cerita Betty Liu menikah dengan Robert Wotton, mereka lalu tinggal di Wotton Farm dan mengelola Wotton Farm hingga peternakan sapi mereka menjadi semakin berkembang bahkan mereka dapat membeli Stephen Farm peternakan sapi terbesar di Fort Bragg. Wotton Farm terus bertahan hingga beberapa generasi.

Dari kisah Betty Liu dan Robbert Wotton kisah beralih ke tokoh Rhonda Roth, cicit Betty Liu  salah satu pewaris Wotton  Farm. Rhonda kecil  memiliki seorang pelindung yaitu Gregory Drew (Greg). Seperti Rhonda, Greg juga tinggal di Wotton Farm karena orang tuanya bekerja di peternakan milik keluarga Rhonda. Kemanapun Rhonda pergi Greg selalu menyertai dibelakangnya sambil membawa tas dan buku-buku Rhonda.  Tanpa disadari ketika keduanya bertumbuh dewasa timbul rasa saling menyayangi diantara keduanya. Rhonda maupun Greg ragu apakah ini cinta? Bagi Greg sendiri ia  berusaha menghalau perasaannya karena ia sadar bahwa dirinya hanyalah seorang pelayan bagi Rhonda.

Ketika Rhonda harus meninggalkan Wotton Farm untuk melanjutkan kuliah di Boston barulah keduanya menyadari arti dari kehilangan. Tak ada yang bisa dilakukan Rhonda selain  membuat puluhan  sketsa wajah Greg yang ia simpan dan rahasiakan dari siapun. Perbedaan jarak dan status (majikan-pelayan) membuat hubungan mereka menjadi berjarak hingga akhirnya Rhonda menyerahkan hatinya pada Brandon Resensky, seorang eksekutif muda sukses yang terus mendekatinya dengan cara-cara romantis yang diluar dugaan. Hubungan Rhonda dan Brandon berlanjut hingga akhirnya  memutuskan untuk bertunangan dan merencakanan sebuah pernikahan.

Ketika pertunangan diresmikan di Wotton Farm, Greg yang kecewa memilih untuk lari menghindar dari kehidupan Rhonda. Ia meninggalkan Wotton Farm dan memilih bekerja di Los Angeles. Sebuah peristiwa yang mengancam peternakan akhirnya memaksa Greg untuk kembali ke Wotton Farm demi menyelamatkan peternakan milik keluarga Rhonda yang telah berdiri selama beberapa generasi. 

Sebenarnya tema novel ini sederhana, yaitu tentang kisah cinta dua pribadi yang berbeda secara status, namun di tangan Arleen A, penulis produktif yang telah menulis ratusan buku anak, kisah cinta ini menjadi sangat menarik untuk dibaca. Penulis termasuk berani mengambil resiko yang jarang ditempuh penulis-penulis lokal yaitu rentang waktu kisah yang panjang ( 1 abad), setting lokasi di Amerika Serikat, dan tokoh-tokoh yang bukan orang Indonesia. Walau novel ini ditulis oleh penulis lokal yang tinggal di Indonesia namun dalam hal pendeskripsian setting lokasi peternakan sapi perah, karakter dan keseharian tokoh-tokohnya semuanya bernuansa barat sehingga saya sependapat dengan dengan beberapa pendapat para blogger buku yang mengatakan bahwa membaca novel ini seperti membaca sebuah karya terjemahan dari penulis asing.

Dari segi romansa kisahnya, penulis mendeskripsikannya dengan sangat baik,  perasaan dan kegalauan para tokoh-tokohnya terungkap dengan baik sehingga kita dapat memahami apa yang dirasakan oleh para tokoh-tokohnya. Kita akan dibuat kesal, galau, dan gregetan seakan sedang mengalami sendiri apa yang dirasakan oleh tokoh-tokoh utamanya.

Walau didominasi dengan kisah romansa percintaan  namun novel ini juga menyajikan sedikit unsur thriller terutama di penghujung novel. Walau ending-nya mungkin berhasil ditebak oleh beberapa pembaca namun sebelum menuju ending penulis menyajikan sebuah kejutan yang mungkin tidak terpikirkan oleh pembaca yang terlanjur terbuai oleh sebuah kisah roman yang apik.

Selain kisah Betty Liu dengan Robert Wotton, Rhonda dengan Brandon, dan gejolak Greg yang berusaha memendam cintanya pada Rhonda, penulis juga menyelipkan kisah Jerry dan Wanda. Jerry, anak pemilik peternakan Stephen Farm  yang dihadirkan sebagai tokoh antagonis. Walau awalnya tampak tak memiliki hubungan dengan tokoh  Betty atau Rhonda namun kelak pembaca akan mengetahui bahwa kisah Jerry dan Wanda ini bukan sekedar kisah tambahan semata.

Satu hal yang menjadi keunikan dalam novel ini adalah adanya interlude-interlude yang mengisahkan dongeng si Topi/Kerudung Merah (Red Ridding Hood) karya Grimm. Sepertinya penulis mencoba menghubungkan dongeng si Kerudung Merah dengan Lady in Red atau katakanlah ini adalah adaptasi atau versi modern dari dongeng tersebut. Namun sayangnya saya tidak berhasil menemukan keterkaitan yang jelas antara dongeng si topi Merah dengan novel ini. Atau mungkin saya yang kurang peka? :)

Dalam novel ini penulis membagi kisahnya kedalam tiga  bagian besar berdasarkan periode waktu  yaitu 1920-1955, 2013-2016, 2019-2020. Dari bagian pertama ke bagian kedua terdapat lubang rentang waktu yang cukup panjang (58 tahun) kisahnya pun melompat dari tahun 1955 ke 2013. Ada dua generasi keluarga Wotton yang hilang dari penceritaan. Akan lebih menarik jika penulis mengisi lubang waktu itu dengan kisah oleh kisah salah satu anak atau cucu Betty Liu sehingga novel ini bisa menjadi sebuah kisah kehidupan keluarga Roth yang utuh .

Terlepas dari hal tersebut kehadiran novel ini patut diapresiasi dengan baik. Novel yang dikemas dengan cover yang  menarik ini ternyata memiliki isi yang lebih menarik dari covernya. Walau kisahnya hanya kisah cinta biasa yang dibalut dengan pembalasan dendam masa lampau yang diberi bumbu thriller di penghujung kisahnya, namun karena penulis berhasil menyajikan setting waktu, tempat, dan tokoh-tokoh barat yang jarang digarap oleh penulis lokal maka novel ini  mampu memberi warna  tersendiri dalam khazanah novel-novel lokal saat ini.

@htanzil

Tuesday, October 25, 2016

Kisah Seorang Sinyo

[No. 370]
Judul : Kisah Seorang Sinyo
Penulis : Fried Muller
Penerjemah : Sugihardjo Adirono
Penerbit : Katarsis Book
Cetakan I : Juli 2016
Tebal : 107 hlm

Buku ini adalah memoar Fried Muller, seorang sinyo Belanda berdarah campuran Jerman -Indonesia. Fried Muller  lahir di Purwakarta pada 9 September 1933.  Ayahnya bekerja sebagai masinis kereta api di Cibatu, Garut - Jawa Barat.  sebuah desa kecil yang terletak di persimpangan jalan kereta api  Bandung - Yogyakarta.  

Dalam memoarnya ini Fried Muller mengisahkan pengalaman dan pergulatan hidupnya mulai dari masa kecilnya di Cibatu-Garut, Batavia, Jogya, hingga dewasa dan harus pulang ke Negeri Belanda. Kisahnya melintas berbagai zaman, mulai dari zaman kolonial,  penjajahan Jepang, perang kemerdekaan, hingga paska Indonesia merdeka,

Ada banyak hal menarik tentang situasi sosial, politik, dan budaya Indonesia di mata seoang 'sinyo' Indo yang bisa pembaca peroleh dari memoar ini. Melalui memoar yang dilengkapi dengan beberapa foto pembaca bisa melihat seperti apa suasana kehidupan orang-orang Belanda dan orang-orang Indonesia,serta bagaimana hubungan antara keduanya berdasarkan  kacamata seorang Belanda-Indo

Kedekatan antara pelayan dan anak tuannya yang sering kita dengar dalam roman-roman atau kisah kehidupan di era kolonial terwakili dalam memoar ini. Fried sendiri memiliki hubungan yang sangat dekat dengan perempuan tukang cuci

"Kami juga mempunyai babu perempuan tukang cuci pakaian bernama Cuci.....Babu Cuci selalu menjadi tempat pelarianku. Aku selalu lari kepadanya untuk bersembunyi jika ada yang karena alasan tertentu ingin memberi pukulan padaku atau karena alasan lain apapun. Dia melebihi ibuku sendiri...karena dialah yang selalu memberi aku makan dan asuhan. Babu Cuci mengajar aku bicara bahasa Indonesia. Dia juga memberiku nama Sinyo.." (hlm 7-8)

Selain kisah pengalaman Fried selama berada di Hindia memoar ini juga berisi pergulatan batin dirinya, sebagian besar didominasi tentang pergumulan dirinya sebagai seorang berdarah campuran atau Indo. 

Di masa peperangan, ketika Jepang menyerbu Hindia kehidupan orang-orang Eropa berubah drastis, mereka yang tadinya hidup dalam kemerdekaan tiba-tiba harus masuk dalam kamp-kamp interniran. Demikian juga keluarga Muller. Ayah Fried ditawan sehingga ia beserta ibu dan saudara-saudaranya harus bertahan hidup di luar mencari makanan. Bukan hal yang mudah karena disinilah identitasnya sebagai orang Indo mulai menjadi kesulitan bagi Fried dan keluarganya. Hubungan  antara penduduk pribumi dengan orang  Eropa dan Indo yang tadinya harmonis menjadi berubah karena perang.

Selama 3,5 tahun peperangan, tidak ada satupun orang Indonesia yang pernah menawarkan kepadaku makanan atau bantuan. Bagi mereka kami tidak ada sama sekali....Sedari kecil aku aku tidak pernah mengerti mengapa kami selalu dipaksa memilih pihak Belanda, padahal oleh orang-orang Belanda sendiri kami dianggap sebagai warga negara kelas dua. Bahkan waktu aku ditahan di kamp juga diperlakukan begitu.
(hlm48)
 
Tadinya Fried Muller berpikir bahwa kesulitan sebagai warga kelas dua akan sirna ketika ia kembali ke negeri Belanda. Ternyata tidak, alih-alih mendapat sambutan hangat ketika kembali ke Belanda, ternyata para Belanda- Indo mendapat perlakuan yang sangat dingin. Rupanya pemerintah sosialis yang tengah berkuasa di Belanda saat itu menginginkan agar orang Belanda-Indo dari daerah jajahan tidak pulang ke negeri Belanda.

Di Belanda mereka (kaum sosialis) sama sekali tidak tahu apa yang terjadi di daerah jajahannya. Mereka sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang terjadi di wilayah koloni. Bahkan dalam buku-buku sejarah tidak ditemukan apa-apa mengenai penjajahan yang lamanya 300 tahun
(hlm 71)  

Tidak hanya berdasarkan pengalaman pribadinya melalui memoar ini juga penulis memberi  penjelasan bagaimana dan mengapa setelah penyerahan kedaulatan Belanda kepada Indonesia secara resmi pada tanggal 27 Desember 1949 orang-orang Indo memilih meninggalkan Indonesia karena mereka khawatir terjadi rasisme setelah Indonesia benar-benar merdeka. Namun banyak juga yang karena pertimbangan keluarga, mengajukan permohonan untuk memperoleh status kewarganegaaan Indonesia. 

Seperti yang dialami Fried Muller, mereka yang pulang ke Belanda disambut sangat dingin dan sebagian besar ditampung di rumah-rumah pensiun kontrakan atau di kamp-kamp militer tua, Pemerintah Belanda waktu itu berharap mereka tidak datang ke Belanda, dan mempropagandakan supaya para Belanda-Indo migrasi ke Papua New Guinea untuk menjalankan rezim kolonial serta membantu pembangunan.

Di akhir memoarnya Fried Muller mencatat tentang generasi ketiga para imigran Belanda-Indo yang menetap di Belanda. Mereka akhirnya bisa memecahkan masalahnya dalam kehidupan di Belanda dan membuat gaya hidup Belanda khas sendiri dan menjadikan penduduk dan budaya Belanda lebih beragam lagi.

Dengan kedatangan mereka, masakan Belanda lebih bervariasi dan warna kulit Negeri Belanda menjadi lebih gelap. Banyak orang Indo generasi ketiga sekarang mencari kembali asal usul mereka, "back to roots" dan dengan cara masing-masing ingin memberikan kontribusi bagi pembangunan Indonesia. 
(hlm 100-101)

@htanzil

Monday, October 17, 2016

Rumah Kertas

[No. 369]
Judul : Rumah Kertas
Penulis : Carlos Maria Dominguez
Penerjemah : Ronny Agustinus
Penerbit : Marjin Kiri
Cetakan : I, September 2016
Tebal : 76 hlm, 12x 19cm
ISBN : 978-979-1260-62-6


Pada musim semi 1998, bu dosen Bluma Lenon membeli satu eksemplar buku lawas Poem karya Emily Dickinson di sebuah toko buku di Soho, dan saat menyusuri puisi kedua di tikungan jalan pertama, ia ditabrak mobil dan meninggal.   
(hlm 1)

Demikianlah paragraf awal dari novelet Rumah Kertas karya Carlos Maria Domiquez, sastrawan kelahiran Argentina yang bermukim dan berkarya di Monteviedo, Uruguay. Sebuah paragraf awal yang menghentak yang membuat pembacanya ingin segera mengetahui kelanjutan dari novel pendek setebal 76 halaman ini.

Setelah peristiwa tragis tersebut tokoh 'Aku' yang tidak disebutkan namanya hingga akhir novel ini menggantikan posisi Bluma di Jurusan Sastra Amerika Latin Universitas Cambridge, London. Di suatu pagi ia menerima paket  yang dialamatkan pada almarhum Bluma Lenon. Paket  berperangko Uruguay  tanpa nama dan alamat pengirim tersebut berisi sebuah buku edisi lama La linea de sombra karya Joseph Conrad. Yang mengherankan adalah di sampul depan dan belakang buku tersebut menempel kerak bekas adukan semen. Satu-satunya petunjuk yang ada terdapat di halaman persembahan di mana tertera tulisan Bluma 

"Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu..... tertanggal 8 Juli 1996."

Terdorong rasa penasaran siapa Carlos dan apa motif pengiriman buku tersebut ke Bluma maka tokoh Aku berusaha  mencari identitas si pengirim hingga akhirnya didapatinya sebuah nama bernama Carlos Brauer, seorang bibliofil yang menjadi salah satu pendengar di konferensi penulis yang pernah dihadiri Bluma di Montterrey, Mexico. Tokoh Aku menempuh jarak ribuan kilometer, melintas benua untuk menemui Carlos Brauer. Pencariannya ini mengantarnya bertemu dengan  Delgado yang juga seorang bibliofil yang sangat mengenal Brauer dan kegilaannya akan buku.

Sejatinya kisah novel ini sangat sederhana yaitu pencarian sang tokoh terhadap asal-usul buku aneh yang diterima oleh koleganya yang telah meniggal, namun dari pencariannya inilah yang akan mengantar kita memasuki dunia para bibliofil dengan ragam keunikannya yang bisa dikatakan bukan lagi unik melainkan gila. Dunia para penggila buku.

Melalui novel ini  kita diajak melihat bagaimana Carlos Brauer dan Delgado begitu menggilai buku hingga seluruh rumahnya dipenuhi buku. Brauer memiliki 20 ribu buku yg tersimpan dalam rak-rak buku besar dari lantai sampai ke plafon. Selain dalam lemari buku-bukunya juga bertumpukan di dapur, kamar mandi, kamar tidur,  di anak tangga menuju loteng, hingga kamar mandinya 

"Kamar mandinya berisi buku di tiap dindingnya, kecuali di dinding tempat pancuran air, dan buku-bukunya tak sampai rusak hanya karena ia berhenti mandi air hangat buat mencegah uap. Mau musim panas atau musim dingin, ia selalu mandi air dingin" 
(hlm 30)

Dan yang lebih gila lagi adalah secara sukarela Brauer  memberikan mobilnya ke temannya agar bisa mengisi garasinya dengan buku!

Brauer juga memiliki cara  yang unik untuk menata bukunya. Ia menyusun buku-bukunya sedemikian rupa di atas ranjangya hingga  menyerupai kontur tubuh manusia. Selain itu Baurer juga memperlakukan buku-bukunya seperti layaknya manusia yang memiliki perasaan atau emosi yaitu menempatkan buku-bukunya berdasarkan sistem kekerabatan atau bagaimana penulis buku memiliki relasi dengan penulis lainnya.

Tak terbayangkan buatnya untuk menarih buku Borges bersebelahan dengan Garcia Loca, yang oleh penulis Argentina itu pernah diejek sebagai 'Andalanus Profesiona'. Brauer juga merasa tidak mungkin meletakkan Shakespeare bersebelahan dengan Marlowe, mengingat tudingan-tudingan penjiplakan.... Dan tentunya ia tidak bisa menjajarkan buku Martin Amis dengan Julian Barnes, setelah kedua teman ini bermusuhan, sama halnya dengan Vargas Llosa bersebelahan dengan Garcia Marquez  (hlm 37)

Cara membaca Brauer tidak kalah eksentriknya, ia memiliki kebiasaan membaca penulis-penulis Perancis abad kesembilan belas diterangi cahaya lilin

"Mungkin menurut Anda eksentrik dan tak ada gunanya, tapi coba saja terangi sebuah lukisan cat minyak dengan cahaya lilin, akan terlihat segi lain yang benar-benar baru. Lukisan itu akan jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya, ....... cahaya lilin memberikan sebuah buku pendar tambahan yang bisa memancarkan nilai-nilai dan kelembutannya dengan ajaib". 
 (hlm 42-43)

 Kebiaaan membaca dengan cahaya lilin ini pada akhirnya membawa bencana, karena terlalu banyak minum anggur, Brauer lupa meninggalkan kandil lilin di atas lemari indeksnya, lilinnya jatuh dan membakar habis lemari indeks buku beserta isinya. Peristiwa itu membuat Brauer terpukul. Kehilangan indeksnya dalam kebakaran telah memupus semua ilusi untuk bisa menata perpustakaannya. Karena itu Brauer menjual rumahnya dan  pergi ke Rocha La Paloma,  Uruguay bersama buku-bukunya. Di sana  dan membangun sebuah rumah di daerah terpencil di tepi laut.

"Tapi buku-bukunya memang ia boyong ke Rocha bersamanya. Ke beting tanah di antara tasik dan laut. Kepindahan yang mahal, sebab buku-buku itu harus diangkut lebih dari dua ratus kilometer dengan truk-truk berlapis terpat. Mereka harus meyusuri jalan tanah lalu dibawa melintas beting dengan gerobak-gerobak, sampai akhirnya tiba di pondok nyaris di batas laut."
(hlm 51)

Di tempatnya yang baru Brauer memiliki obsesi yang aneh, agar puluhan ribu buku-bukunya dapat melindungi dirinya dari angin, hujan, dan keteduhan di musim panas  ia menyuruh para kuli yang membangun rumahnya menggunakan buku-bukunya sebagai ganti batu bata!.

"....Ia mengulurkan ke si kuli  sejilid Borges buat dipaskan di bawah kusen jendela, Vallejo untuk pintu, Kafka di atasnya, dan di sampingnya Kant, serta edisi sampul tebal Farrewel to Arms-nya Hemingway, juga Cortazar dan Vargas Llosa, yang selalu menulis karya tebal-tebal; Valle-Inclan dengan Aristoteles, Camus dengan Morosoli; dan Shakespeare lengket selamanya dengan Marlowe kena adukan semen; dan semuanya ditadirkan untuk mendirikan tembok..." 
(hlm 53)

Dari hal inilah akhirnya tokoh Aku bisa mengerti mengapa buku yang dikirim Brauer pada Prof Bluma memiliki noda berupa kerak semen. Apakah Brauer kelak membongkar rumah bukunya untuk mengambil dan mengembalikan sebuah buku yang diberikan Blauma padanya? Jawabannya ada di bagian akhir dari novel ini.

Bagi para pecinta buku novel ini sangat layak untuk dibaca dan memberikan kepuasan  karena di novel ini penulis mengisahkan bagaimana  para penggila buku memperlakukan buku-buku melebihi apapun. Mereka rela mengorbankan kenikmatannya demi buku-bukunya. Penulis tampaknya memahami betul jiwa dan ragam kebiasaan-kebiasaan yang lazim dan tak lazim dari para penggila  buku sehingga perilaku unik dan menarik dari para bibliofil dikisahkan dengan begitu hidup dan menarik.

Kita  tidak perlu meniru perilaku gila Brauer terhadap buku-bukunya namun dari novel ini setidaknya kita akan melihat bagaimana buku yang adalah puncak peradaban manusia modern begitu dihargai dan dicintai. 

Kegilaan Brauer yang mejadikan buku sebagai ganti batu bata untuk rumahnya tidak bisa diterima dengan akal sehat namun bukan tak mungkin kita melakukan hal yang sama dalam tingkat yang lebih sederhana, misalnya kita terus membeli buku dan merasa nyaman tinggal dalam rumah atau kamar yang dikelilingi buku.  Atau kita hanya menjadikan buku sebagai pajangan agar kita terlihat cerdas di mata tamu-tamu kita seperti yang terdapat dalam novel ini

 "Seorang profesor sastra klasik  sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya", dan baru kembali ke ruang tamu setelah efek-efek tertentu mulai merasuki sang tamu"

Untungnya dibalik kegilaan Brauer akan buku ternyata iapun seorang pembaca buku yang tekun. Buku bukan sekedar dibeli dan disimpan, ia membaca dan membuat catatan dari apa yang dibacanya. Bahkan Brauer tidak segan-segan membuat catatan penting pada marjin  buku-buku antik yang sedang dibacanya.

 "Aku sanggamai tiap-tiap buku, dan kalau belum ada bekasnya, berarti belum orgasme
(hlm. 32)
 
 Bagi Brauer buku bukan sekedar untuk disimpan atau sekedar pemuas hasrat pribadi namun buku juga harus dibaca dan dimaknai dengan memberi tanda atau catatan-catatan penting di buku-buku yang ia baca.

Saya akan menutup review  ini dengan mengutip tentang  dua jenis bibliofil/pecinta buku yang ada di novel ini

"Orang-orang ini (bibliofil) ada dua golongan....pertama, kolektor, yang bertekad mengumpulkan edisi-edisi langka.....edisi pertama buku-buku Borges sekalitus artikel-artikel di majalah-majalah; buku-buku yang dicetak oleh Colombo, disunting oleh Bonet, sekalipun mereka tak pernah membuka-bukanya selain untuk melihat-lihat halamannya, seperti orang-orang mengagumi sebuah objek indah.

Lainnya, ada para kutu buku, pelahap bacaan yang rakus, seperti Brauer itu, yang sepanjang umurnya membangun koleksi perpustakaan yang penting. Pecinta buku tulen, yang sanggup mengeluarkan uang yang tidak sedikit untuk buku yang akan menyita waktu mereka berjam-jam, tanpa kebutuhan lain kecuali untuk mempelajari dan memahaminya."
(hlm 17) 

Anda termasuk yang mana? kolektor atau kutu buku?

@htanzil